Detikpangan.com, Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) melepas kapal pengangkut pupuk dari Kawasan Industri Pupuk Kaltim, Bontang belum lama ini sebagai bagian dari langkah antisipatif menghadapi puncak musim tanam akhir tahun.
Dalam pengiriman tersebut, sebanyak 4.650 ton urea bersubsidi diberangkatkan menuju Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, untuk memenuhi kebutuhan petani yang telah terdaftar.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa distribusi pupuk melalui jalur laut menjadi komponen penting untuk menjaga kelancaran penyaluran pada saat permintaan meningkat.
Ia memastikan seluruh pupuk yang dikirim telah mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru yang mulai berlaku sejak 22 Oktober 2025, setelah pemerintah menurunkan HET hingga 20 persen untuk meringankan beban petani.
Rahmad juga menyebut seluruh ketentuan harga sudah diterapkan pada sistem i-Pubers dan di seluruh kios resmi.
“Lengkap dengan pemasangan stiker HET terbaru sebagai bentuk transparansi harga,” kata Rahmad kepada wartawan Jumat (28/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa pelepasan pupuk dari Pupuk Kaltim ini merupakan rangkaian distribusi nasional, setelah sebelumnya Pupuk Indonesia juga mengirimkan pupuk dari gudang Petrokimia Gresik ke Bojonegoro, Tuban, dan Ngawi.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal, menambahkan bahwa keandalan produksi menjadi faktor utama dalam mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, pabrik terus menjaga kesinambungan operasi agar pasokan bagi petani terdaftar tetap terjamin.
Sebagai BUMN yang bertugas menyalurkan pupuk subsidi, Pupuk Indonesia tetap berpedoman pada prinsip distribusi 7T: tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan administrasi. Selain memastikan pasokan, perusahaan juga memperluas edukasi ke petani melalui program Rembuk Tani, terutama terkait HET baru dan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas.
Untuk musim tanam kali ini, Pupuk Indonesia menyiapkan stok nasional 1,44 juta ton. Di Kalimantan tersedia 276.435 ton, terdiri dari pupuk bersubsidi dan nonsubsidi. Di Kalimantan Timur saja terdapat 207.375 ton stok, termasuk 4.603 ton pupuk subsidi—jumlah yang dinilai cukup untuk kebutuhan lebih dari 55 hari.
Rahmad menegaskan bahwa keterjangkauan pupuk sangat mempengaruhi perilaku pemupukan di tingkat petani. “Setiap kenaikan harga pupuk Rp1.000 berpotensi menurunkan intensitas pemupukan hingga 14 persen. Karena itu, penurunan HET adalah langkah strategis menjaga produktivitas dan kemandirian pangan nasional,” ujarnya.

